Jakarta, Genz.id – Setiap 28 Juli memperingati Hari Hepatitis Sedunia 2026. Ini seakan jadi warning kita semua, bahwa hepatitis masih menjadi ancaman kesehatan serius.
Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) mengajak semua pihak bertindak lebih cepat. Dan peringatan Hari Hepatitis Sedunia 2026 membawa tema “Hepatitis: Let’s Break It Down.”
Tema tersebut mengajak masyarakat meruntuhkan stigma, informasi keliru, dan berbagai hambatan menuju pemeriksaan serta pengobatan. WHO menilai pencegahan menjadi langkah paling penting untuk menghentikan penyebaran hepatitis. Pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat wajib bergerak bersama agar angka kematian terus menurun.
Hepatitis Masih Menjadi Ancaman Dunia
Hepatitis terbagi menjadi lima jenis utama. Kelimanya meliputi hepatitis A, B, C, D, dan E. Masing-masing penyebabnya adalah virus yang berbeda. Namun, semuanya sama-sama menyerang organ hati dan dapat memicu penyakit serius.
Menurut WHO, sekitar dua miliar penduduk dunia pernah terinfeksi hepatitis. Selain itu, sekitar 1,4 juta orang meninggal akibat penyakit ini setiap tahun. Data lain menunjukkan hepatitis menjadi penyebab sekitar 1,5 juta kematian setiap tahun. Sebagian besar kematian akibat infeksi hepatitis B dan hepatitis C.
Penyakit ini bahkan menjadi penyebab kematian kedelapan terbesar di dunia. Sayangnya, banyak penderita baru mengetahui kondisinya ketika hati sudah mengalami kerusakan berat.
Indonesia Masih Menghadapi Tantangan Besar
Indonesia juga menghadapi beban hepatitis yang cukup tinggi. Dikutip dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI), prevalensi hepatitis B di Tanah Air mencapai 9,4 persen.
Artinya sekitar 28 juta penduduk Indonesia pernah terinfeksi virus hepatitis. Dari jumlah tersebut, sekitar 2,8 juta kasus berkembang menjadi kronis.
Sebagian penderita kemudian mengalami sirosis hati. Bahkan, sebagian lainnya berkembang menjadi kanker hati yang berujung kematian.
Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya deteksi dini. Pemeriksaan lebih awal mampu meningkatkan peluang penanganan sebelum fungsi hati mengalami kerusakan permanen.
Deteksi Dini Masih Menjadi Tantangan
Salah satu masalah terbesar dalam penanganan hepatitis adalah keterlambatan diagnosis. Banyak orang tidak menyadari dirinya telah terinfeksi.
Gejala hepatitis sering kali ringan atau bahkan tidak muncul pada tahap awal. Akibatnya, penderita baru memeriksakan diri ketika penyakit sudah berkembang.
Keluhan yang mulai muncul biasanya berupa tubuh mudah lelah. Selain itu, penderita dapat mengalami mual, urine berwarna gelap, nyeri perut, hingga kulit menguning.
Padahal, pemeriksaan sejak dini membantu tenaga kesehatan menentukan terapi yang sesuai. Penanganan cepat juga dapat menurunkan risiko komplikasi berat.
Kenali Jenis Hepatitis dan Gejalanya
Hepatitis A
Hepatitis A disebabkan virus hepatitis A (HAV). Virus ini menyebar melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi.
Gejala umumnya meliputi pusing, mual, muntah, diare, sakit tenggorokan, kehilangan nafsu makan, serta kulit menguning. Sebagian besar penderita dapat pulih sepenuhnya dengan perawatan yang tepat.
Hepatitis B
Penyebab Hepatitis B adalah virus HBV yang berasal dari keluarga Hepadnaviridae. Penularannya terjadi melalui darah dan cairan tubuh. Virus ini dapat berpindah dari ibu kepada bayi saat persalinan. Penularan juga bisa terjadi melalui transfusi darah, jarum suntik, tato, pisau cukur, maupun transplantasi organ.
Gejala hepatitis B akut meliputi mual, muntah, demam, nyeri perut, kehilangan nafsu makan, dan penyakit kuning. Namun, sebagian penderita kronis tidak merasakan gejala apa pun.
Jika tidak tertangani dengan baik, hepatitis B kronis dapat berkembang menjadi fibrosis hati. Kondisi tersebut kemudian berisiko berubah menjadi sirosis hingga gagal hati.
Hepatitis C
Virus hepatitis C atau HCV termasuk keluarga Flaviviridae. Penularannya terjadi melalui darah dan cairan tubuh yang terkontaminasi. Gejalanya meliputi mual, muntah, mudah lelah, kehilangan nafsu makan, dan penyakit kuning.
Sekitar 80 persen penderita berkembang menjadi hepatitis kronis. Perjalanan penyakit berlangsung sangat lambat. Sekitar 10 hingga 20 persen kasus berubah menjadi sirosis dalam waktu 15 sampai 20 tahun.
Risiko kanker hati juga meningkat setelah sirosis terjadi. Karena itu, pemeriksaan rutin sangat dianjurkan bagi kelompok berisiko.
Hepatitis D
Hepatitis D terjadi akibat serangan virus HDV yang sudah ada sejak 1977. Virus ini hanya dapat berkembang jika penderita juga terinfeksi hepatitis B.
Cara penularannya sama seperti hepatitis B. Gejalanya meliputi demam, nyeri sendi, nyeri otot, mual, muntah, kehilangan nafsu makan, dan penyakit kuning.
Infeksi hepatitis D dapat mempercepat terbentuknya jaringan parut pada hati. Akibatnya, risiko sirosis dan kanker hati menjadi lebih tinggi.
Hepatitis E
Hepatitis E disebabkan virus HEV dari keluarga Hepeviridae. Penularannya terjadi melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi feses penderita.
Gejalanya mirip hepatitis A. Penderita dapat mengalami demam ringan, mual, muntah, nyeri perut, kehilangan nafsu makan, serta kulit menguning.
Sebagian kecil kasus berkembang menjadi hepatitis kronis, terutama pada orang dengan sistem kekebalan tubuh lemah. Meski jarang, hepatitis E juga dapat menyebabkan gagal hati akut.
Cara Mencegah Hepatitis Sejak Dini
Pencegahan hepatitis sebenarnya dapat kamu lakukan melalui langkah sederhana. Kamu cukup menjaga kebersihan makanan dan minuman setiap hari.
Vaksinasi hepatitis A dan hepatitis B juga menjadi perlindungan yang sangat efektif. Selain itu, hindari penggunaan jarum suntik bergantian dan pastikan alat medis selalu steril.
Kamu juga perlu rutin memeriksakan kesehatan jika memiliki faktor risiko. Semakin cepat hepatitis ditemukan, semakin besar peluang untuk mencegah komplikasi.
Jangan Tunggu Gejala Berat Muncul
Hari Hepatitis Sedunia 2026 menjadi pengingat bahwa hepatitis sering berkembang tanpa gejala yang jelas. Karena itu, kesadaran masyarakat menjadi kunci utama untuk menekan angka penularan.
Melalui edukasi, pemeriksaan dini, vaksinasi, dan penghapusan stigma, semakin banyak nyawa dapat diselamatkan. Pesan WHO juga sangat jelas, yaitu menghentikan hepatitis membutuhkan aksi bersama, bukan hanya dari tenaga kesehatan, tetapi juga seluruh masyarakat.






