Jakarta, Genz.id – Nyetir pakai sandal jepit sepertinya masih terjadi oleh banyak pengendara. Padahal, kebiasaan ini menyimpan risiko yang bisa berujung kecelakaan.
Banyak orang memilih sandal jepit karena terasa praktis, ringan dan nyaman. Namun, rasa nyaman itu belum tentu memberikan kendali terbaik saat mengemudi.
Bahkan, beberapa negara melarang pengendara memakai sandal jepit ketika menyetir. Alasannya sederhana, yaitu demi menjaga keselamatan pengemudi dan pengguna jalan lainnya.
Sejumlah penelitian juga menunjukkan bahwa alas kaki memiliki pengaruh besar terhadap respons saat menginjak pedal. Selisih waktu yang sangat kecil ternyata bisa menentukan keselamatan di jalan.
Training Director Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI), Sony Susmana, juga memiliki pandangan yang sama. Ia menilai penggunaan sandal tidak ideal untuk mengemudi.
“Penggunaan sandal dari sisi keselamatan sebetulnya tidak direkomendasikan karena berbahaya,” ujar Sony Susmana, Training Director SDCI.
Kenapa Nyetir Pakai Sandal Jepit Berbahaya?
Sandal jepit tidak dirancang untuk aktivitas mengemudi. Desainnya yang longgar membuat kaki lebih mudah bergeser saat mengoperasikan pedal.
Risiko terbesar muncul ketika sandal tersangkut di pedal gas atau rem. Situasi seperti ini dapat membuat pengemudi terlambat bereaksi saat kondisi darurat.
Selain itu, sandal jepit tidak memberikan pijakan yang stabil. Akibatnya, tekanan ke pedal rem menjadi kurang maksimal ketika harus melakukan pengereman mendadak.
Pada kecepatan tinggi, keterlambatan sepersekian detik saja bisa berakibat fatal. Karena itu, banyak instruktur keselamatan berkendara tidak merekomendasikan penggunaan sandal jepit.
Penelitian Membuktikan Respons Pengereman Melambat
Sebuah penelitian dari perusahaan asuransi Sheila’s Wheels di Inggris menunjukkan hasil yang menarik. Hasilnya menunjukkan sandal jepit memperlambat gerakan kaki sekitar 0,13 detik. Angka itu memang terlihat kecil, tetapi dampaknya sangat besar.
Saat mobil melaju dengan kecepatan 100 km/jam, keterlambatan tersebut membuat kendaraan terus melaju sekitar 3,5 meter. Jarak itu cukup untuk menyebabkan tabrakan jika ada kendaraan berhenti di depan.
Penelitian yang sama juga menemukan perpindahan kaki dari pedal gas ke rem menjadi lebih lambat. Pengguna sandal jepit membutuhkan waktu sekitar 0,04 detik.
Sebaliknya, penggunaan sepatu yang lebih sesuai hanya memerlukan sekitar 0,02 detik. Artinya, respons kaki bisa dua kali lebih cepat daripada saat memakai sandal jepit.
Banyak Pengemudi Tetap Mengabaikan Risiko
Meski risikonya cukup jelas, masih banyak pengendara yang tetap menggunakan sandal jepit. Hal tersebut terlihat dari hasil jajak pendapat terhadap lebih dari 1.055 pengemudi di Inggris.
Sekitar sepertiga responden mengaku sering mengemudi memakai sandal jepit. Fakta ini menunjukkan kebiasaan tersebut masih banyak yang menganggapnya normal.
Sebanyak 27 persen responden juga mengaku alas kaki pernah menyebabkan kecelakaan kendaraan. Bahkan, tujuh persen menyebut sandal jepit hampir membuat mereka mengalami kecelakaan.
Menariknya lagi, hampir 60 persen responden mengaku mengetahui penggunaan alas kaki yang kurang tepat saat mengemudi. Namun, sekitar 20 persen tetap menggunakannya meski pernah hampir celaka.
Bisa Kena Denda Hingga Ratusan Juta Rupiah
Di beberapa negara, melakukan nyetir pakai sandal jepit bahkan mendapat perhatian khusus. Inggris menjadi salah satu contohnya.
Pengemudi yang tidak mampu mengendalikan kendaraan karena alas kaki dapat kena sanksi. Nilai dendanya mencapai 5.000 Poundsterling. Jika dikonversikan dengan kurs sekitar Rp22.000 per Poundsterling, nilainya setara sekitar Rp110 juta. Jumlah tersebut tentu bukan angka yang kecil.
Aturan itu dibuat bukan untuk membatasi kebebasan pengendara. Tujuan utamanya adalah mengurangi risiko kecelakaan akibat kesalahan yang sebenarnya bisa dicegah.
Nyetir Pakai High Heels Juga Bahaya!
Tidak hanya nyetir pakai sandal jepit, high heels juga kurang aman jika kamu gunakan saat mengemudi. Risiko bahayanya mirip dengan penggunakan sandal jepit.
Alas kaki ini memang sering andalan demi menunjang penampilan. Namun, hak tinggi membuat posisi kaki menjadi kurang stabil. Akibatnya, pengemudi lebih sulit mengontrol pedal gas maupun rem.
Selain mengurangi kenyamanan, high heels juga meningkatkan risiko cedera ketika terjadi kecelakaan. Karena itu, sebaiknya pengemudi mengganti alas kaki sebelum mulai berkendara.
Setelah tiba di tujuan, pengguna baru bisa memakai kembali high heels. Cara sederhana ini jauh lebih aman dibanding mempertaruhkan keselamatan selama perjalanan.
Pilih Alas Kaki yang Aman Saat Menyetir
Lalu, alas kaki seperti apa yang lebih aman digunakan? Jawabannya adalah sepatu dengan desain sederhana dan nyaman.
Sol sepatu sebaiknya tidak lebih tebal dari 10 milimeter. Ketebalan tersebut membantu kaki tetap merasakan tekanan pedal dengan baik.
Bagian bawah sepatu juga sebaiknya menggunakan bahan karet. Material ini membantu mengurangi risiko kaki tergelincir ketika menginjak pedal.
Selain itu, sepatu tidak boleh membatasi gerakan pergelangan kaki. Ukurannya juga harus pas agar kedua kaki tidak saling bertabrakan ketika berpindah pedal.
Ciri Alas Kaki yang Aman untuk Mengemudi
| Kriteria | Rekomendasi |
|---|---|
| Ketebalan sol | Maksimal 10 mm |
| Material bawah | Karet anti selip |
| Ukuran | Pas di kaki |
| Fleksibilitas | Tidak membatasi pergelangan kaki |
| Kontrol pedal | Mudah berpindah gas dan rem |
| Tidak disarankan | Sandal jepit dan high heels |
Keselamatan Selalu Lebih Penting daripada Gaya
Mengemudi bukan hanya soal mencapai tujuan dengan cepat. Aktivitas ini juga menuntut konsentrasi dan kendali penuh terhadap kendaraan.
Karena itu, memilih alas kaki yang tepat menjadi bagian penting dari keselamatan berkendara. Kebiasaan sederhana tersebut dapat mengurangi risiko kecelakaan yang sebenarnya bisa dihindari.
Jadi, mulai sekarang sebaiknya tinggalkan kebiasaan nyetir pakai sandal jepit. Gunakan sepatu yang nyaman, tidak licin, dan mampu memberikan kontrol terbaik saat mengemudi agar setiap perjalanan tetap aman.






